Tehnik Cara Budidaya Ayam Petelur




Kali ini Cara Hijau akan membahas Tehnik Cara Budidaya Ayam Petelur,tapi sebelum mambahas bagaimana Tehnik Cara Budidaya Ayam Petelur,Cara Hijau akan membahass sejarah singkat Ayam Petelur.Ayam petelur adalah ayam-ayam betina dewasa yang dipelihara khusus untuk diambil telurnya.Asal mula ayam unggas adalah berasal dari ayam hutan dan itik liar yang ditangkap dan dipelihara serta dapat bertelur cukup banyak.Tahun demi tahun ayam hutan dari wilayah dunia diseleksi secara ketat oleh para pakar.Arah seleksi ditujukan pada produksi yang banyak,karena ayam hutan tadi dapat diambil telur dan dagingnya maka arah dari produksi yang banyak dalam seleksi tadi mulai spesifik.Ayam yang terseleksi untuk tujuan produksi daging dikenal dengan ayam broiler,sedangkan untuk produksi telur dikenal dengan ayam petelur.Selain itu,seleksi juga diarahkan pada warna kulit telur hingga kemudian dikenal ayam petelur putih dan ayam petelur cokelat.Persilangan dan seleksi itu dilakukan cukup lama hingga menghasilkan ayam petelur seperti yang ada sekarang ini.Dalam setiap kali persilangan,sifat jelek dibuang dan sifat baik dipertahankan (“terus dimurnikan”).Inilah yang kemudian dikenal dengan ayam petelur unggul.

PERSYARATAN LOKASI BUDIDAYA AYAM PETELUR
1.Lokasi yang jauh dari keramaian/perumahan penduduk.
2.Lokasi mudah dijangkau dari pusat-pusat pemasaran.
3.Lokasi terpilih bersifat menetap, tidak berpindah-pindah.

PEDOMAN TEKNIS BUDIDAYA

Penyiapan Sarana dan Peralatan
1.Kandang
Iklim kandang yang cocok untuk beternak ayam petelur meliputi persyaratan temperatur berkisar antara 32,2–35 derajat C,kelembaban berkisar antara 60–70%,penerangan dan atau pemanasan kandang sesuai dengan aturan yang ada,tata letak kandang agar mendapat sinar matahari pagi dan tidak melawan arah mata angin kencang serta sirkulasi udara yang baik,jangan membuat kandang dengan permukaan lahan yang berbukit karena menghalangi sirkulasi udara dan membahayakan aliran air permukaan bila turun hujan,sebaiknya kandang dibangun dengan sistem terbuka agar hembusan angin cukup memberikan kesegaran di dalam kandang.

Untuk kontruksi kandang tidak harus dengan bahan yang mahal,yang penting kuat,bersih dan tahan lama.Selanjutnya perlengkapan kandang hendaknya disediakan selengkap mungkin seperti tempat pakan,tempat minum,tempat air,tempat ransum, tempat obat-obatan dan sistem alat penerangan.Bentuk-bentuk kandang berdasarkan sistemnya dibagi menjadi dua,yaitu:
a.Sistem kandang koloni, satu kandang untuk banyak ayam yang terdiri dari
ribuan ekor ayam petelur
b.Sistem kandang individual,kandang ini lebih dikenal dengan sebutan cage.Ciri dari kandang ini adalah pengaruh individu di dalam kandang tersebut menjadi dominan karena satu kotak kandang untuk satu ekor ayam.Kandang sistem ini banyak digunakan dalam peternakan ayam petelur komersial.

Jenis kandang berdasarkan lantainya dibagi menjadi tiga macam yaitu:
a.kandang dengan lantai liter, kandang ini dibuat dengan lantai yang dilapisi kulit padi,pesak/sekam padi dan kandang ini umumnya diterapkan pada kandang sistem koloni.
b.kandang dengan lantai kolong berlubang,lantai untuk sistem ini terdiri dari bantu atau kayu kaso dengan lubang-lubang diantaranya,yang nantinya untuk membuang tinja ayam dan langsung ke tempat penampungan.
c.kandang dengan lantai campuran liter dengan kolong berlubang,dengan perbandingan 40% luas lantai kandang untuk alas liter dan 60% luas lantai dengan kolong berlubang (terdiri dari 30% di kanan dan 30% di kiri.

2.Peralatan
a.Litter (alas lantai)
Alas lantai/litter harus dalam keadaan kering, maka tidak ada atap yang bocor dan air hujan tidak ada yang masuk walau angin kencang.Tebal litter setinggi 10 cm,bahan litter dipakai campuran dari kulit padi/sekam dengan sedikit kapur dan pasir secukupnya,atau hasi serutan kayu dengan panjang antara 3–5 cm untuk pengganti kulit padi/sekam.

b.Tempat bertelur
Penyediaan tempat bertelur agar mudah mengambil telur dan kulit telur tidak kotor,dapat dibuatkan kotak ukuran 30 x 35 x 45 cm yang cukup untuk 4–5 ekor ayam.Kotak diletakkan dididing kandang dengan lebih tinggi dari tempat bertengger,penempatannya agar mudah pengambilan telur dari luar sehingga telur tidak pecah dan terinjak-injak serta dimakan.Dasar tempat bertelur dibuat miring dari kawat hingga telur langsung ke luar sarang setelah bertelur dan dibuat lubah yang lebih besar dari besar telur pada dasar sarang.

c. Tempat bertengger
Tempat bertengger untuk tempat istirahat/tidur, dibuat dekat dinding dan diusahakan kotoran jatuh ke lantai yang mudah dibersihkan dari luar.Dibuat tertutup agar terhindar dari angin dan letaknya lebih rendah dari tempat bertelur.

d.Tempat makan, minum dan tempat grit
Tempat makan dan minum harus tersedia cukup, bahannya dari bambu,almunium atau apa saja yang kuat dan tidak bocor juga tidak berkarat.Untuk tempat grit dengan kotak khusus.

Penyiapan Bibit
Ayam petelur yang akan dipelihara haruslah memenuhi syarat sebagai
berikut,antara lain:
a.Ayam petelur harus sehat dan tidak cacat fisiknya.
b.Pertumbuhan dan perkembangan normal.
c.Ayam petelur berasal dari bibit yang diketahui keunggulannya.

Ada beberapa pedoman teknis untuk memilih bibit/DOC (Day Old Chicken) /ayam umur sehari:
a.Anak ayam (DOC ) berasal dari induk yang sehat.
b.Bulu tampak halus dan penuh serta baik pertumbuhannya .
c.Tidak terdapat kecacatan pada tubuhnya.
d.Anak ayam mempunyak nafsu makan yang baik.
e.Ukuran badan normal, ukuran berat badan antara 35-40 gram.
f.Tidak ada letakan tinja diduburnya.

1.Pemilihan Bibit dan Calon Induk
Penyiapan bibit ayam petelur yang berkreteria baik dalam hal ini tergantung sebagai berikut:
a.Konversi Ransum.
Konversi ransum merupakan perabandingan antara ransum yang dihabiskan ayam dalam menghasilkan sejumlah telur.Keadaan ini sering disebut dengan ransum per kilogram telur. Ayam yang baik akan makan sejumlah ransum dan menghasilkan telur yang lebih banyak/lebih besar daripada sejumlah ransum yang dimakannya.Bila ayam itu makan terlalu banyak dan bertelur sedikit maka hal ini merupakan cermin buruk bagi
ayam itu.Bila bibit ayam mempunyai konversi yang kecil maka bibit itu dapat dipilih, nilai konversi ini dikemukakan berikut ini pada berbagai bibit ayam dan juga dapat diketahui dari lembaran daging yang sering dibagikan pembibit kepada peternak dalam setiap promosi penjualan bibit ayamnya.

b.Produksi Telur.
Produksi telur sudah tentu menjadi perhatian. Dipilih bibit yang dapat memproduksi telur banyak.Tetapi konversi ransum tetap utama sebab ayam yang produksi telurnya tinggi tetapi makannya banyak juga tidak menguntungkan.

c. Prestasi bibit dilapangan/dipeternakan.
Apabila kedua hal diatas telah baik maka kemampuan ayam untuk bertelur hanya dalam sebatas kemampuan bibit itu.Contoh prestasi beberapa jenis bibit ayam petelur dapat dilihat pada data di bawah ini.
  • Babcock B-300 v: berbulu putih,type ringan,produksi telur(hen house) 270,ransum 1,82 kg/dosin telur.
  • Dekalb Xl-Link: berbulu putih,type ringan,produksi telur(hen house) 255-280,ransum 1,8-2,0 kg/dosin telur.
  • Hisex white: berbulu putih,type ringan,produksi telur(hen house) 288,ransum 1,89 gram/dosin telur.
  • H & W nick: berbulu putih,type ringan,produksi telur(hen house) 272,ransum 1,7-1,9 kg/dosin telur.
  • Hubbarb leghorn: berbulu putih,type ringan,produksi telur(hen house)260,ransum 1,8-1,86 kg/dosin telur.
  • Ross white: berbulu putih,type ringan,produksi telur(hen house) 275,ransum 1,9 kg/dosin telur.
  • Shaver S 288: berbulu putih,type ringan,produksi telur(hen house)280,ransum 1,7-1,9 kg/dosin telur
  • Babcock B 380: berbulu cokelat,type Dwiguna,produksi telur(hen house) 260-275,ransum 1,9 kg/dosin telur.
  • Hisex brown: berbulu cokelat,type Dwiguna,produksi telur(hen house)272,ransum 1,98 kg/dosin telur.
  • Hubbarb golden cornet: berbulu cokelat,type Dwiguna,produksi telur(hen house) 260,ransum 1,24-1,3 kg/dosin telur.
  • Ross Brown: berbulu cokelat,type Dwiguna,produksi telur(hen house) 270,ransum 2,0 kg/dosin telur.
  • Shaver star cross 579: berbulu cokelat,type Dwiguna produksi telur(hen house) 265,ransum 2,0-2,08 kg/dosin telur.
  • Warren sex sal link: berbulu cokelat,type Dwiguna,produksi telur(hen house) 280,ransum 2,04 kg/dosin telur.


Pemeliharaan
1.Sanitasi dan Tindakan Preventif
Kebersihan lingkungan kandang (sanitasi) pada areal peternakan merupakan usaha pencegahan penyakit yang paling murah,hanya dibutuhkan tenaga yang ulet/terampil saja.Tindakan preventif dengan memberikan vaksin pada ternak dengan merek dan dosis sesuai catatan pada label yang dari poultry shoup.

2.Pemberian Pakan
Untuk pemberian pakan ayam petelur ada 2 (dua) fase yaitu fase starter
(umur 0-4 minggu) dan fase finisher (umur 4-6 minggu).

a.Kualitas dan kuantitas pakan fase starter adalah sebagai berikut:
  • Kwalitas atau kandungan zat gizi pakan terdiri dari protein 22-24%,lemak 2,5%,serat kasar 4%, Kalsium (Ca) 1%, Phospor (P) 0,7-0,9%,ME 2800-3500 Kcal.
  • Kwantitas pakan terbagi/digolongkan menjadi 4 (empat) golongan yaitu minggu pertama (umur 1-7 hari) 17 gram/hari/ekor; minggu kedua (umur 8-14 hari) 43 gram/hari/ekor; minggu ke-3 (umur 15-21 hari) 66 gram/hari/ekor dan minggu ke-4 (umur 22-29 hari) 91 gram/hari/ekor.Jadi jumlah pakan yang dibutuhkan tiap ekor sampai pada umur 4 minggu sebesar 1.520 gram.


b.Kwalitas dan kwantitas pakan fase finisher adalah sebagai berikut:
  • Kwalitas atau kandungan zat gizi pakan terdiri dari protein 18,1-21,2%;lemak 2,5%;serat kasar 4,5%; kalsium (Ca) 1%; Phospor (P) 0,7-0,9% dan energi (ME) 2900-3400 Kcal.
  • Kwantitas pakan terbagi/digolongkan dalam empat golongan umur yaitu:minggu ke-5 (umur 30-36 hari) 111 gram/hari/ekor;minggu ke-6 (umut 37-43 hari) 129 gram/hari/ekor;minggu ke-7 (umur 44-50 hari) 146 gram/hari/ekor dan minggu ke-8 (umur 51-57 hari) 161 gram/hari/ekor.Jadi total jumlah pakan per ekor pada umur 30-57 hari adalah 3.829 gram.


Pemberian minum disesuaikan dangan umur ayam,dalam hal ini dikelompokkan dalam 2 (dua) fase yaitu:
a.Fase starter (umur 1-29 hari) kebutuhan air minum terbagi lagi pada masing-masing minggu, yaitu minggu ke-1 (1-7 hari) 1,8 lliter/hari/100 ekor;minggu ke-2 (8-14 hari) 3,1 liter/hari/100 ekor; minggu ke-3 (15-21 hari) 4,5 liter/hari/100 ekor dan minggu ke-4 (22-29 hari) 7,7 liter/hari/ekor.Jadi jumlah air minum yang dibutuhkan sampai umur 4 minggu adalah sebanyak 122,6 liter/100 ekor.Pemberian air minum pada hari pertama
hendaknya diberi tambahan gula dan obat anti stress kedalam air minumnya.Banyaknya gula yang diberikan adalah 50 gram/liter air.

b.Fase finisher (umur 30-57 hari), terkelompok dalam masing-masing minggu yaitu minggu ke-5 (30-36 hari) 9,5 lliter/hari/100 ekor;minggu ke-6 (37-43 hari) 10,9 liter/hari/100 ekor;minggu ke-7 (44-50 hari) 12,7 liter/hari/100 ekor dan minggu ke-8 (51-57 hari) 14,1 liter/hari/ekor.Jadi total air minum 30-57 hari sebanyak 333,4 liter/hari/ekor.

3.Pemberian Vaksinasi dan Obat
Vaksinasi merupakan salah satu cara pengendalian penyakit virus yang menulardengan cara menciptakan kekebalan tubuh.Pemberiannya secara teratur sangat penting untuk mencegah penyakit.Vaksin dibagi menjadi 2 macam yaitu:

Vaksin aktif adalah vaksin mengandung virus hidup.Kekebalan yang ditimbulkan lebih lama daripada dengan vaksin inaktif/pasif.

Vaksin inaktif adalah vaksin yang mengandung virus yang telah dilemahkan/dimatikan tanpa merubah struktur antigenic,hingga mampu membentuk zat kebal.Kekebalan yang ditimbulkan lebih pendek,keuntungannya disuntikan pada ayam yang diduga sakit.

Macam-macam vaksin:
a.Vaksin NCD vrus Lasota buatan Drh Kuryna
b.Vaksin NCD virus Komarov buatan Drh Kuryna (vaksin inaktif)
c.Vaksin NCD HB-1/Pestos.
d.Vaksin Cacar/pox, virus Diftose.
e.Vaksin anti RCD Vaksin Lyomarex untuk Marek.

Persyaratan dalam vaksinasi adalah:
a.Ayam yang divaksinasi harus sehat.
b.Dosis dan kemasan vaksin harus tepat.
c.Sterilisasi alat-alat.

4.Pemeliharaan Kandang
Agar bangunan kandang dapat berguna secara efektif,maka bangunan kandang perlu dipelihara secara baik yaitu kandang selalu dibersihkan dan dijaga/dicek apabila ada bagian yang rusak supaya segera disulam/diperbaiki kembali.Dengan demikian daya guna kandang bisa maksimal tanpa mengurangi persyaratan kandang bagi ternak yang
dipelihara.

HAMA DAN PENYAKIT

Penyakit karena Bakteri
1.Berak putih (pullorum)
Menyerang ayam kampung dengan angka kematian yang tinggi.
Penyebab:Salmonella pullorum.
Pengendalian:diobati dengan antibiotika

2.Foel typhoid
Sasaran yang disering adalah ayam muda/remaja dan dewasa.
Penyebab:Salmonella gallinarum.
Gejala:ayam mengeluarkan tinja yang berwarna hijau kekuningan.
Pengendalian:dengan antibiotika/preparat sulfa.

3.Parathyphoid
Menyerang ayam dibawah umur satu bulan.
Penyebab:bakteri dari genus Salmonella.
Pengendalian:dengan preparat sulfa/obat sejenisnya.

4.Kolera
Penyakit ini jarang menyerang anak ayam atau ayam remaja tetapi selain
menyerang ayam menyerang kalkun dan burung merpati.
Penyebab:pasteurella multocida.
Gejala:pada serangan yang serius pial ayam (gelambir dibawah paruh) akan membesar.
Pengendalian:dengan antibiotika (Tetrasiklin/Streptomisin).

5.Pilek ayam (Coryza)
Menyerang semua umur ayam dan terutama menyerang anak ayam.
Penyebab:makhluk intermediet antara bakteri dan virus.
Gejala:ayam yang terserang menunjukkan tanda-tanda seperti orang pilek. Pengendalian:dapat disembuhkan dengan antibiotia/preparat sulfa.

6.CRD
CRD adalah penyakit pada ayam yang populer di Indonesia. Menyerang
anak ayam dan ayam remaja.
Pengendalian:dilakukan dengan antibiotika (Spiramisin dan Tilosin).

7.Infeksi synovitis
Penyakit ini sering menyerang ayam muda terutama ayam broiler dan
kalkun.
Penyebab: bakteri dari genus Mycoplasma.
Pengendalian: dengan antibiotika.

Penyakit karena Virus
1.Newcastle disease (ND)
ND adalah penyakit oleh virus yang populer di peternak ayam Indonesia.Pada awalnya penyakit ditemukan tahun 1926 di daerah Priangan.Penemuan tersebut tidak tersebar luas ke seluruh dunia.Kemudian di Eropa,penyakit ini ditemukan lagi dan diberitakan ke seluruh dunia.Akhirnya penyakit ini disebut Newcastle disease.

2.Infeksi bronchitis
Infeksi bronchitis menyerang semua umur ayam.Pada dewasa penyakit ini menurunkan produksi telur.Penyakit ini merupakan penyakit pernafasan yang serius untuk anak ayam dan ayam remaja.Tingkat kematian ayam dewasa adalah rendah,tapi pada anak ayam mencapai 40%.Bila menyerang ayam petelur menyebabkan telur lembek,kulit telur tidak normal,putih telur encer dan kuning telur mudah berpindah tempat (kuning telur yang normal selalu ada ditengah).Tidak ada pengobatan untuk penyakit ini tetapi dapat dicegah dengan vaksinasi.

3.Infeksi laryngotracheitis
Infeksi laryngotracheitis merupakan penyakit pernapasan yang serius terjadi pada unggas.
Penyebab: virus yang diindetifikasikan dengan Tarpeia avium.Virus ini di luar mudah dibunuh dengan desinfektan,misalnya karbol.
Pengendalian:(1) belum ada obat untuk mengatasi penyakit ini;(2)
pencegahan dilakukan dengan vaksinasi dan sanitasi yang ketat.

4.Cacar ayam (Fowl pox)
Gejala tubuh ayam bagian jengger yang terserang akan bercak-bercak cacar.
Penyebab: virus Borreliota avium.
Pengendalian: dengan vaksinasi.

5.Marek
Penyakit ini menjadi populer sejak tahun 1980-an hingga kini menyerang bangsa unggas,akibat serangannya menyebabkan kematian ayam hingga 50%.
Pengendalian:dengan vaksinasi.

6.Gumboro
Penyakit ini ditemukan tahun 1962 oleh Cosgrove di daerah Delmarva Amerika Serikat.Penyakit ini menyerang bursa fabrisius,khususnya menyerang anak ayam umur 3–6 minggu.

Penyakit karena Jamur dan Toksin
Penyakit ini karena ada jamur atau sejenisnya yang merusak makanan.Hasil perusakan ini mengeluarkan zak racun yang kemudian di makan ayam.Ada pula pengolahan bahan yang menyebabkan asam amino berubah menjadi zat beracun.Beberapa penyakit ini adalah :

1.Muntah darah hitam (Gizzerosin)
Ciri kerusakan total pada gizzard ayam
Penyebab:adalah racun dalam tepung ikan tetapi tidak semua tepung ikan menimbulkan penyakit ini.Timbul penyakit ini akibat pemanasan bahan makanan yang menguraikan asam amino hingg menjadi racun.
Pengendalian:belum ada.

2.Racun dari bungkil kacang
Minyak yang tinggi dalam bungkil kelapa dan bungkil kacang merangsang pertumbuhan jamur dari grup Aspergillus.Untuk menghindari keracunan bungkil kacang maka dalam rancung tidak digunakan antioksidan atau bungkil kacang dan bungkil kelapa yang mengandung kadar lemak tinggi.

Penyakit karena Parasit
1.Cacing
Karena penyakit cacing jarang ditemukan di peternakan yang bersih dan terpelihara baik.Tetapi peternakan yang kotor banyak siput air dan minuman kotor maka mungkin ayam terserang cacingan.Ciri serangan cacingan adalah tubuhnya kurus,bulunya kusam,produksi telur merosot dan kurang aktif.

2.Kutu
Banyak menyerang ayam di peternakan Indonesia.Dari luar kutu tidak terlihat tapi bila bulu ayam disibak akan terlihat kutunya.Tanda fisik ayam terserang ayam akan gelisah.Kutu umum terdapat di kandang yang tidak terkena sinar matahari langsung maka sisi samping kandang diarahkan melintang dari Timur ke Barat.Penggunaan semprotan kutu sama dengan cara penyemprotan nyamuk.Penyemprotan ini tidak boleh mengenai tangan dan mata secara langsung dan penyemprotan dilakukan malam hari sehingga pelaksanaannya lebih mudah karena ayam tidak aktif.

Penyakit karena Protozoa
Penyakit ini berasal dari protozoa (trichomoniasis, Hexamitiasis dan Blachead),penyakit ini dimasukkan ke golongan parasit tetapi sebenarnya berbeda.Penyakit ini jarang menyerang ayam lingkungan peternakan dijaga kebersihan dari alang-alang dan genangan air.

Cukup sampai sini saja Cara Hijau membahasa Tehnik Cara Budidaya Ayam Petelur,semoga artikel ini dapat bermanfaat buat temen-temen sekalian,terima kasih

 

Popular Posts

Atas